|
|
Pasca Pembukaan Rute NATO, Maaf Amerika Ke Pakistan Harus Disertai Kompensasi
Dimuat juga di Blog INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM BBC: Dua kontainer NATO melintasi perbatasan Pakistan Pakistan NATO Supply Routes Set To Reopen Thursday Benci Tapi Rindu Ala Direktur Dinas Intelijen Amerika CIA & Pakistan ISI
Jakarta, 5 Juli 2012 (KATAKAMI.COM) — Tepat pada Kamis (5/7/2012) ini, Pemerintah Pakistan yang dipimpin oleh Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Raja Pervez Ashraf secara resmi akan membuka kembali rute suplai bagi NATO ke Afghanistan melalui wilayah Pakistan. Rute itu telah ditutup secara resmi sebagai bentuk kemarahan Pakistan atas serangan Amerika Serikat yang menewaskan 24 orang tentara Pakistan pada bulan November 2011 lalu. Keputusan Pakistan untuk membuka kembali rute suplai NATO ke Afghanistan ini diambil setelah Amerika bersedia menyampaikan permohonan maaf. Seperti yang diberitakan Harian KOMPAS (4/7/2012), Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton menyatakan belasungkawa atas kematian ke-24 tentara Pakistan tersebut dalam percakapan telepon dengan Menlu Pakistan Hina Rabbani Khar. Insiden tersebut merusak hubungan kedua negara hingga memaksa AS dan sekutunya mengirim suplai untuk tentara mereka melalui rute utara ke Afganistan dan menghabiskan biaya lebih tinggi. “Kami menyesalkan kehilangan yang dialami militer Pakistan,” kata Clinton dalam sebuah pernyataan dengan Khar. “Saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para tentara Pakistan yang meninggal. Saya dan Menlu Khar menyadari kesalahan yang menyebabkan kehilangan jiwa di pihak militer Pakistan,” kata Clinton. Inilah untuk kali pertama pejabat AS meminta maaf secara resmi atas kematian tentara-tentara Pakistan. Langkah ini menjadi sebuah perdebatan panas di pemerintahan Obama dan yang dituntut pemerintah Pakistan sementara jalur suplai ke Afganistan itu tertutup selama tujuh bulan. Permintaan maaf itu dinyatakan saat pemerintah Pakistan dan para petinggi militer negara itu bertemu di Islamabad pada Selasa (3/7/2012) malam untuk membicarakan pembukaan jalur suplai NATO tersebut.
Dari kiri ke kanan : Presiden Barack Obama, Menteri Pertahanan Leon Panetta, dan Jenderal David Howell Petraeus
Tetapi satu hal yang perlu diingatkan kepada Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) yang dipimpin oleh Leon Panetta. Barangkali Presiden Barack Obama “lupa” untuk memerintahkan Pentagon menyertai permohonan maaf mereka kepada Pemerintah Pakistan dengan pemberian kompensasi kepada keluarga dari 24 tentara Pakistan yang menjadi korban. Permohonan maaf saja tidak cukup untuk semua tragedi seberat itu, Presiden Obama ! Seperti layaknya kebijakan Presiden Obama saat memerintahkan Pentagon membayarkan kompensasi kepada keluarga korban yang dibantai tentara Amerika di Afghanistan bulan Maret 2012 lalu, maka sesungguhnya Obama juga perlu mempertimbangkan pemberian kompensasi kepada keluarga dari 24 tentara Pakistan. Amerika Serikat membayar kompensasi senilai 50 ribu dolar AS atau senilai Rp 450 juta setiap korban tewas akibat pembantaian yang dilakukan tentaranya di Afghanistan bulan Maret lalu. Kala itu, pejabat Afganistan juga menyebutkan, bahwa selain 50 ribu dolar bagi setiap korban tewas, AS berjanji memberikan kompensasi 11 ribu dolar bagi korban cidera. Uang tersebut diberikan Pentagon atas perintah langsung dari Presiden AS Barack Obama. Menurut AS, ini adalah langkah Gedung Putih untuk memperbaiki hubungan dengan Afganistan, setelah ketegangan yang terus berlangsung. Dari total korban pembantaian, AS akan membayar total kompensasi sebesar 866 ribu dolar atau senilai Rp 7,8 miliar. Perhitungan tersebut terdiri atas 16 orang tewas, 12 di desa Balandi dan empat di desa tetangga Alkozai. Walau kemudian dikonfirmasi terdapat 17 korban tewas, ditambah enam lainnya luka-luka. Militer AS menuduh pelaku melakukan aksi tanpa perintah dan menganggap dirinya mengalami gangguan mental. Tentara Angkatan Darat AS berpangkat Sersan, Robert Bales (38) dituduh melakukan aksi kejinya pada 11 Maret 2012. Bales memasuki rumah warga Afganistan di dua desa terdekat pada Shubuh hari. Kemudian ia dengan membabibuta menembaki satu keluarga yang sedang tertidur pulas. Pria asal Washington ini, membantai menggunakan senapan 9 mm dan M-4. Pembantaian tersebut terjadi saat ketegangan antara AS dan Afghanistan mengalami puncak-puncaknya pasca terjadinya pembakaran Alquran di pangkalan militer AS, Bagram di Februari lalu.
Direktur Dinas Rahasia Pakistan (ISI) Letnan Jenderal Zaheerul Islam, kiri, dan Direktur Dinas Rahasia Amerika Serikat David Howell Petraeus
Kritikan Jimmy Carter Soal Drones Bukan Untuk Obama Tapi Pentagon Dan CIA
Dan pasca pembukaan kembali rute suplai untuk pasukan NATO ini, sudah selayaknya rencana pertemuan antara pimpinan dari dinas rahasia Pakistan (ISI) dan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) di dijadwalkan kembali untuk bisa dilaksanakan dalam waktu dekat. Seharusnya pada akhir bulan Mei lalu, Direktur Dinas Intelijen Pakistan, Letnan Jenderal Zaheerul Islam, akan berkunjung ke Washington DC untuk menemui mitra kerjanya yaitu Direktur Dinas Rahasia Amerika Serikat, Jenderal David Howell Petraeus. Tetapi rencana kunjungan itu dibatalkan sepihak oleh Pakistan. Pembatalan tersebutterjadi saat masing-masing pihak merasa jengkel antara satu dengan yang lainnya. Amerika jengkel pada Pakistan karena Pengadilan di Pakistan menjatuhkan hukuman pidana kurungan selama 33 tahun penjara kepada Dr Shakil Afridi, yang divonis bersalah karena telah membantu Dinas Rahasia CIA saat menangkap Osama Bin Laden di Abbottabad, Pakistan pada 2 Mei 2011 lalu. Sedangkan Pakistan jengkel karena pesawat tanpa awak alias sang predator milik Amerika ( dalam hal ini CIA ) terus menerus menggempur wilayah-wilayah tertentu di Pakistan. Mengapa kedua pimpinan dinas rahasia ini perlu dipertemukan secara khusus ? Sebab, permohonan maaf Amerika (selain harus disertai pemberian kompensasi), tak akan ada gunanya jika ke depan serangan-serangan pesawat tanpa awak Amerika (DRONES) tetap menghantami Pakistan tanpa kendali. Walau sebenarnya, tujuan Amerika (entah itu Pentagon atau CIA), adalah untuk membidik target-target mereka dari kelompok Taliban. Tetapi tetap, wilayah yang dimasuki oleh drones ini adalag wilayah kedaulatan Pakistan. Sehingga, hal-hal semacam ini perlu dibahas secara khusus. Biar bagaimanapun, hubungan baik antara Amerika dan Pakistan harus dipulihkan dan dilanjutkan di masa-masa mendatang. Pepatah mengatakan, “Satu orang musuh terlalu banyak, seribu orang kawan terlalu sedikit”. Keputusan Pakistan membuka rute suplai untuk Pasukan NATO ke Afghanistan ini sungguh sangat pantas untuk dipuji oleh semua pihak. Sungguh ini merupakan sebuah bentuk kerendahan hati dari para pemimpin di Islamabad. Dan tak cuma itu, Pakistan dan Amerika diharapkan bisa memulihkan hubungan bilateral negara mereka, tanpa harus dicederai lagi oleh insiden-insiden semacam ini.
(MS)
|




